Write is amazaing
Smua orang memiliki impian, smua orang mempunyai cita-cita, tapi tak ada yang tahu kapan semua itu kan terwujud. Aku yang mempunyai mimpi tuk menjadi seorang penulis besar, terkenal dan menginspirasi orang banyak tak tahu kapan hal itu akan terwujud. Tapi setelah mengobrol dengan salah seorang teman lama yang mempunyai hobi yang sama saat di jenjang pendidikan Aliyah dulu memberikan motivasi baru dalam mimpiku. Smua berawal dari inisiatifku untuk melakukan sharing padanya via chating di facebook. kurang lebih begini percakapanku dengannya. Layaknya percakapan antara satu orang dengan orang lain, pastinya semua diawali dengan berbasa-basi.
Smua orang memiliki impian, smua orang mempunyai cita-cita, tapi tak ada yang tahu kapan semua itu kan terwujud. Aku yang mempunyai mimpi tuk menjadi seorang penulis besar, terkenal dan menginspirasi orang banyak tak tahu kapan hal itu akan terwujud. Tapi setelah mengobrol dengan salah seorang teman lama yang mempunyai hobi yang sama saat di jenjang pendidikan Aliyah dulu memberikan motivasi baru dalam mimpiku. Smua berawal dari inisiatifku untuk melakukan sharing padanya via chating di facebook. kurang lebih begini percakapanku dengannya. Layaknya percakapan antara satu orang dengan orang lain, pastinya semua diawali dengan berbasa-basi.
"Asslmkm Dian, kaifa haal?", jadi nama temanku itu adalah Dian, Mahasiswa UGM Fakultas Ilmu Bahasa kalau tidak salah, hehe maklum sedikit lupa ^^ . "Waalaikumussalam wr.wb... alhmdulillah shat," jawabnya padaku ditimpali dengan icon senyuman :). lanjut ya ceritanya, aku katakan padanya, "mau nanya boleh??", lantas iapun kembali memberikan sebuah jawaban yang kurang lebih begini bunyinya. "Boleh..," cukup jawaban yang simple, karena pertanyaanku kan simple juga, cukup adil kan.
Sebenarnya aku mempunyai rasa penasaran yang teramat besar padanya, apa kiat-kiatnya dalam dunia tulis-menulis sehingga di usianya yang masih muda, sudah bisa membuahkan karya indie. Apa motivasinya, apa resep-resepnya. Ingin semuanya ku tanyakan dan ku ungkit resep dan menu rahasia sukses seorang Dian.
Kembali ke topik pembahasan, "tentang pertama kali Dian menerbitkan buku. Bagaimana perasaan Dian??," kenapa yang ku tanyakan terkait perasaan karena ku tahu menghasilkan sebuah karya hasil perjuangan kita sendiri pasti sebuah kebanggan yang teramat besar, "Waktu itu bahagia yaa karena berhasil menjawab tantangan papa...,".
Begitulah Dian, termotivasi menulis karena adanya tantangan dari sang Ayah. Tak salah bila orang bijak mengatakan, "Hidup adalah sebuah tantangan," tanpa ada tantangan, tak kan ada tekanan. Tanpa tekanan tak kan ada motivasi untuk menyelesaikan. Namun bukan berarti untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan kita harus menyudutkan pososi orang lain, atau membuatnya merasa di bawah tekanan.
Sosok Dian adalah segelintir orang yang sukses keluar dari zona tidak aman (yaitu tantangan sang Ayah). Dan jangan lupa peran seorang Ayah dian dalam hal ini bahwa, gambaran diatas adalah pola didik seorang Ayah yang ingin membuat anaknya mampu berdiri sendiri, mau terjun ke dalam lingkaran tantangan, di tengah banyaknya anak-anak lain yang berdiam diri dan memilih jalur aman.
Sudah jelas hal itu membuatku semakin membara, bahwa di dalam diri seseorang itu terdapat kekuatan tiada tara melebihi apa yang yang kita kira selama ini. "wow, jadi itu diawali oleh sebuah tantangan dari Papa?", benar itulah tanggapan diriku. Flash back kebelakang bukankah aku mempunyai sebuah prinsip "bahwa hidup itu adalah pergerakan."
Tambah Dian bercerita, "Iyaah... kata papa: menjadi penulis itu biasa, smua orang bisa. Tapi menjadi penulis muda (masih berstatus pelajar) itu baru anaknya papa. Nah, jadi percuma kalau dyan lihatin bermacam surat kabar yg ada memuat karya2 dyan. Papa mau punya buku yg dsmpulnya ada nama anak gadis papa. Dan itu bku tunggal." Bgitu... Stelah bku pertama, dyan jd punya pghsilan sndiri, gk mnta lg ma ortu, n alhmdulillah bsa bntuk sdikit kbutuhan adik2." Gubrak dengan telak hal itu memukulku, aku tau memang aku juga sudah memnghasilkan beberapa buah buku dan karya tulis, namun ada satu hal yang aku kutip dari kata-kata Dian adalah, Buku tunggal (Karya sendiri), bukan antologi keroyokan, kumpulan puisi bersama, ataupun buku terbaruku, kumpulan essay bersama teman-teman komunitas FAM Jabodetabek. Buku yang mana memuat karya-karya seorang Usnul Fiqri dan di sampulnya juga terdapat fotoku seorang. Sehingga dari sebuah hobi yang ku kembangkan ini akan menjadi kebanggan bagiku, keluarga dan setidaknya dari hasil menulis itu aku dapat membiayai kuliah Masterku sendiri nantinya serta dapat membantu Ibu, adik, kakak,dan sanak family tentunya, amin
.
"Wow, super deh. dan label penerbit yang pertama kali dian gaet siapa saat itu?", sampai disini obrolanku dengan Dian pun terputus. Mulai detik ini tak ada kata lelah untuk menulis, tak ada kata henti untuk berkarya. #BergerakDanTerusBerkarya
Untuk masa depan lebih cerah, untuk sebuah perubahan.

0 Comment to "Menulislah, Karena menulis itu menakjubkan"
Posting Komentar