(Surganya
abdi dunia nerakanya abdi Tuhan)
Oleh:
Usnul FiQri
41102038
Beberapa
pekan ini begitu nyaring di telinga kita, berbagai media memberitakan beberapa
hal terkait problematika yang sedang di alami bangsa ini. Mulai dari bencana longsor,
banjir kasus korupsi para pejabat, kecelakaan bus yang diakibatkan rem blong
yang merenggut jiwa-jiwa generasi muda, presiden yang katanya akan menaikkan
gaji para pejabat daerah, moral para guru pendidik yang mulai rusak, yang yang
seharusnya menjadi panutan kearah yang positif malah merusak masa depan anak
didiknya., biaya kesehatan yang katanya gratis dan di tanggung pemerintah namun
malah mendatangkan musibah bagi rakyat miskin, perampokan dimana-mana, penipuan
dengan modus investasi bodong, keharmonisan yang sudah mulai terkikis oleh
perkembangan masa, serta para artis juga tidak ketinggalan memberikan
sumbangsihnya untuk menutup rangkaian berita media masa. Sungguh derita berhiaskan
musibah benar-benar melanda bangsa ini. Sungguh indonesiaku yang malang, surganya
abdi dunia nerakanya abdi Tuhan dan masyarakat.
Pada
beberapa hal negara ini dapat dikatakan maju, namun itu hanyalah bersifat
segelintir, sedangkan dilini yang lain
kita sangat terbelakang. Realita pemerintahan kita bersifat kinerja mulut,
bukan relevansi dari sebuah kinerja yang selama ini mereka koarkan disetiap
kampanye sebelum mereka terpilih menjadi wakil rakyat. Semuanya tak nyata bagi
kita hanya memberikan mimpi buruk dikemudian hari. Seandainya mereka menuliskan
apa yang sudah mereka lontarkan kepada kita tentang segudang aktifitas yang
akan mereka curahkan, demi kemajuan bangsa ini tentunya dia akan tahu
musuh-musuhnya (red. Amanah).
Godaan
memang akan selalu dialami saat seseorang sudah memangku sebuah amanah, mengemban
harapan rakyatnya. Bukan bingung dalam kenikmatan duniannya. Seharusnya ada
pengurutan mana yang harus ia prioritaskan. Yang harus ditekankan adalah
hindari berdebatan terkait fikroh (red. Pemikiran yang berbeda) dan adat yang
nantinya hanya menghasilkan debat kusir yang tak berujung dan bersifat rancu
pada sebagian orang. Perbanyak memberi dan lakukan kontribusi, itulah yang kita
tunggu. Posisikan diri sebagai abdi negara bukan abdi dunia, kenali diri siapa
kita, karena hidup tiadakan lama.
Jangan
tergoda oleh uang yang sekarang, namun tergodalah untuk uang yang akan datang.
Jangan tergoda oleh kenikmatan sekarang yang akan menghancurkan masa depanmu,
namun tergodalah oleh kenikmatan yang akan datang. Seandainya para pejabat kita
berfikir seperti apa yang penulis katakan, alangkah bahagianya kita
diperhatikan oleh pemerintah yang telah kita pilih sesuai dengan aspirasi yang
kita inginkan.
Apabila
ditanyakan satu hal, mana yang anda pilih orang kaya yang bersyukur atau orang
miskin yang sabar. Saya yakin anda akan menjawab orang kaya yang bersyukur.
Namun jawabanya adalah tentunya orang
kaya yang sabar. Orang kaya dinegeri ini dapat dikatakan banyak, hanya saja
semuanya bersifat individual asset. Orang kaya dinegeri ini banyak yang tidak
sabar. Tidak sabar dalam artian selalu focus dengan pekerjaannya masing-masing
atau juga dikatakan sok sibuk. Jangankan ingat terhadap lingkungannya, bisa
jadi keluarganya sendiri tak mereka ingat. Lupa akan sekitar, tak ingat akan
selingkar. Pada lini lain yang justru dimotivasi oleh nafsu keduniawian, hasrat
ingin menambah kekayaan dan berbagai sebab lainnya.
Dapat
saya katakana bahwa hidup ini penuh dengan pujian dan hinaan. Ya begitulah,
maka saya katakan bersyukurlah ketika orang lain menghina anda karena ditengah
kehinaan lahir sebuah kekuatan, namun jangan anda bayar orang lain untuk
menghina anda. Dan berlindunglah ketika orang lain memuji anda karena ditengah
pujian akan lahir sebuah kelemahan, namun jagan anda bayar orang lain agar
tidak mau memuji anda. Jadilah pribadi
anda maka anda akan bekerja dengan segenap kemampuan yang anda punya. Jangan dengarkan
orang lain karena hakikat kehidupan adalah disaat anda sudah mengenal diri anda
sendiri dan berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang kita punya( Nasihat
salah satu dosenku).
Yang
miris di bangsa ini juga adalah kurangnya kepedulian akan sesama, kurangnya
rasa cinta dan kasih diantara sesama manusia. Bagaimana mengembalikan cinta
kasih bangsa ini kembali? Itu menjadi PR besar bagi kita semua, bukan hanya
pihak terkait ataupun pemerintah setempat. Mana Indonesia yang kita kita dulu,
kita selalu bangga akan prestasi orang-orang terdahulu, hingga kita lupa dan
terlarut dalam cerita lama. Kita selau mengadang-gadangkan bhineka tunggal ika,
walaupun kita berbeda suku, bangsa, agama ataupun ras, namun kita tetap satu.
Satu nusa, satu bahasa, satu pemikiran dan satu hati. Hidup ini bukan hanya sekedar menjawab
pertanyaan, tapi bagaimana kita bisa mengerti akan sebuah pertanyaan.
Artinya
kita perlu merenungi kembali kemana nilai-nilai religious bangsa kita, dimana
semangat persatuan yang selalu kita busungkan dan apa yang sudah kita berikan
pada bangsa ini. Bukan hanya menuntut akan sebuah hal yang realitanya hanya
memberikan bayang semu dan janji palsu.
Negara
kita saat ini adalah layaknya orang yang terjangkit penyakit “Post Power
Syndrome”, dimana gejala-gejala yang terjadi adalah si penderitanya hidup dalam
bayang-bayang kebesaran masa lalunya, baik itu karier, kecantikan, ketampanannya,
kecerdasan dan kepintarannya ataupun hal lainnya. Seolah tak bisa memandang
realita yang ada saat ini dan lebih cenderung sibuk dalam dunianya
masing-masing, menciptakan ilusi dunia pengganti untuk dunia yang dijalaninya
saat ini dimana ia merasa nyaman sendiri tanpa ada yang mengusik. Miris, memang
miris namun itulah kita.
Saudaraku
hidup itu adalah sebuah pembelajaran, bukan saling mengurui. Apabila ada salah
maka semua adalah nilai manusiawi yang kita miliki. Maka dari itu alangkah
baiknya kita saling berbagi akan sebuah kelebihan, karena suatu kelebiha akan
sangat bermanfaat saat ia dibagikan. Karena pendidikan yang berkualitas bukan hanya
milik orang yang mempunyai kemampuan dalam hal finansial saja, namun hendaknya
dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Yang perlu ditekankan lagi adalah
sejauh mana kelebihan yang dimiliki bangsa ini bermanfaat bagi rakyatnya agar
menjadi pribadi yang kuat lagi kokoh. Karena sebuah kekuatan melahirkan kesatuan, kesatuan melahirkan
keyakinan. Solusinya adalah bergerak dan bergerak. Karena pergerakan ya,
pergerakan adalah kunci keberhasilan bangsa ini. Selama masih ada para pemuda
dan selama semangat untuk membangun bangsa ini tak pernah padam dan selama
mimpi-mimpi itu juga tak pernah redup. Maka pergerakan itu akan muncul, yakin
dan percayalah. Smoga…