Jumat, 05 Oktober 2018

Perlukah Seorang Sales Ramah? (Friendly Attitude)

Hari ini kembali saya akan bercerita tentang pengalaman menjadi seorang #TrainingAdvisor di salah satu perusahaan training terkemuka di Indonesia. Ini sharing kedua, setelah tulisan saya terkait Motivasi & Ketertarikan minggu lalu.
.
Poin yang ingin saya bahas dalam kesempatan kali ini adalah tentang FRIENDLY. Udah gak asing kan dengan kata-kata ini?
Ya, bahasa Indonesinya RAMAH lah. Kenapa sih seorang Training Advisor atau Marketing atau Sales itu musti atau kudu ramah sama klien dan customernya? Bahkan kadang bagi perempuan harus melembut-lembutkan suaranya.
.
WHY nya saya tulis gede-gede supaya jelas arahnya. Saya analogikan begini, sederhananya dalam membangun suatu hubungan hal pertama yang kudu kita lakukan adalah melakukan PDKT alias pendekatan. Nah pedekate ini bisa berbagai macam bentuknya. Bisa dari menanyakan nama, kota domisili, tawarkan solusi bila yang terjadi adalah TROUBLE. 
.
1) Mengapa yang ditanyakan nama, kota domisili. Agar jelas identitas klien yang ingin kita bantu urusannya. Kalau saya secara pribadi sering melakukan hal tersebut agar jelas pemetaan pasar. Selain itu diharapkan saya bisa mengukur dan mengarahkan klien saya terkait solusi yang dibutuhkan.
.
2) Lakukan hal tersebut se-Friendly mungkin. Tanpa menyinggung ataupun membuat klien kita tidak nyaman. Dua identitas diatas akan sangat membantu meng-GOAL kan apakah akan closing pada akhirnya atau tidak. Nah, jadi kuncinya cuman ramah, kalau kamu ramah orang lain juga bakal balik ramah nanggapin semua chatingan atau obrolan kita. 
.
Sebenarnya ada point ketiga terkait profesi, namun tak semua orang nyaman ditanyakan hal tersebut. Tapi kalau kamu udah jadi Master Friendly 3 poin atau kunci ini bisa jadi acuan kamu. Demikian #SharingAdvisor hari ini, sampai jumpa esok.

Salam Advisor-Satu Visi Satu Misi

Sales Musti Tahu Motivasi dan Ketertarikan Kliennya

#SHARINGADVISOR
Bismillah. Dalam 30 hari ke depan saya akan banyak sharing hal-hal yang saya alami sebagai seorang #TrainingAdvisor di salah satu perusahaan Training terkemuka di Indonesia.
Saya akan mulai dengan beberapa PERTANYAN.
Pernahkah anda berjualan?
Apakah calon pembeli anda hanya sekedar bertanya perihal produk anda tanpa membelinya?
Lalu kemudian anda jengkel karenannya?
=======
Baiklah dimulai dari menanyakan MOTIVASI & KETERTARIKAN. Sebagai Training Advisor, saya dituntut untuk mempunyai salah satu skill bagaimana mempegaruhi klien saya lewat tulisan atau chatingan melalui berbagai macam aplikasi yang sedang berkembang di sosial media pada era milineal ini.
Karen untuk iklan sudah ada timnya sendiri, saya lebih fokus memFollow Up data yang masuk ke database kantor. Dan tidak sedikit juga yang langsung menghubungi saya via whatsapp atau menelepon secara langsung.
Hal yang pertama yang saya lakukan untuk mengetahui sejauh mana data yang masuk ini berpotensi untuk closing atau tidak adalah dengan menanyakan motivasi dan ketertarikan. Karena dengan adanya poin pertama ini akan memudahkan saya untuk bercerita lebih dalam kepada klien tentang program yang kami tawarkan.
Karena ada berbagai macam type klien yang saya temui, mungkin salah satu tipe ini pernah anda temui. 
1. Klien yang memang ingin belajar/sangat butuh/sangat ingin/klop dengan program atau barang yang anda jual. Bila tipe ini anda temui tidak usah khawatir, tinggal mengarahkan dimana kendala dan hambatannya. Karena tugas saya sebagai seorang #TrainingAdvisor adalah mencarikan solusi bagi klien agar bisa ikut atau membeli barang yang saya jual. Ending yang saya dapatkan biasanya, bila yang memang ingin belajar maka tidak akan ada alasan bagi mereka untuk mundur, sekalipun faktornya adalah dana. Maka yang kita tawarkan adalah solusi alternatif, bisa dari promo/diskon dan sebagainya.
2. Klien yang iseng bertanya saja. Bila saya temui klien seperti ini dapat diketahui dari poin pertama yang saya bahas di #SharingAdvisor kali ini. Cukup tanya motivasi dan ketertarikannya, bila tidak sejalan sangat jelas endingnya. Saat anda menawarkan produk mereka akan bertanya namun saat tahu harga mereka akan mundur. Banyak faktor yang seperti ini karena "WHY" nya sja sudah tidak jelas, apalagi kebutuhannya,
Harga bukanlah menjadi tolak ukur seseorang untuk membeli melainkan solusi apa yang bisa kita tawarkan kepada mereka yang membutuhkan. Demikian #SharingAdvisor hari ini, sampai jumpa esok.

Salam Advisor-Satu Visi Satu Misi

Kamis, 04 Oktober 2018

Kuliah Salah Jurusan? WHY NOT!

Ubah Masa Lalu Menjadi Sesuatu Tolak Ukur Baru Yang Mengubah Hidupmu. 
=======
Pernah punya cita cita jadi bankir syariah. Kuliah di kampus yang notabenenya jurusan Manajemen Perbankan Syariah. Dan Tergabung dalam wadah komunitas atau HIMA Hamasah Sebi (Himpunan Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah), dan 2 tahun juga jadi member di Isef Sebi (Islamic Economics Forum).
Faktanya sejak kuliah hingga sekarang saya tidak pernah magang atau kerja di Bank Syariah manapun. Namun habbit kami saat itu banyak yang magang di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat atau bahasa kerennya NGO.
Pengalaman menjadi relawan atau orang yang bekerja di lembaga nonprofit tidak membuat saya menyesal pernah mengambil sebuah jurusan kuliah. Karena menurut saya ilmunya masih terpakai sekalipun tidak bekerja dalam industri perbankan dan saya sendiri tidak menjadi seorang bankir.
Aku rapopo, slow bae, setiap insan sudah punya garis kehidupannya masing-masing. Mau apapun jurusan kita, setidaknya kita masih punya impian baru atau setidaknya impian kita tidak melenceng terlalu jauh dari apa yang kita harapkan. Toh seandainyapun jauh, ambil hikmahnya saja. Karena dengan hal tersebut kita bisa banyak belajar dari sebuah masa lalu. 
Saat mengikuti Training Speak To Chane saya sadar betul betapa masa lalu itu tidak untuk dibuang atau dihilangkan. Seandainya ia menjadi batu yang menghalangi maka ubah dia menjadi permata yang menerangi setiap mata. Masa lalu tidak untuk dibuang, namun jadikan ia sahabat. Ambil hikmah dari setiap masa lalu. Dan jika ada peluang atau kesempatan ubah masa lalu menjadi sesuatu tolak ukur baru yang mengubah hidupmu.