“Tentara hitam datang! Bergegas!” suara sepatu-sepatu lars tentara bergema hingga ke pelosok desa. Aku terbangun, dengan cepat mengambil ransel yang sudah sejak dulu aku persiapkan—sejak negara kami berperang dan tentara musuh mulai menyerang warga sipil. Kudengar dua adik kembarku meraung di kamarnya, mereka ketakutan mencari sosok Ibu dalam gelap.“Derai, bawa adik-adikmu ke hutan!” Ibu berteriak dari dapur, ia pasti sedang mengambil bekal yang juga sudah sejak dulu disiapkan. Aku berlari menuju pintu, bergegas menggendong adik-adik bayiku.
Duaaarr. Suara tembakan menghentikan langkahku sejenak, dan aku tahu saat itu juga Ibuku telah tumbang. Aku harus menenangkan Pelangi dan Mentari agar tak terdengar tentara di bawah. Tapi apa daya, seluruh dinding di hadapanku hancur oleh ledakan, bongkahnya terlempar pada kami. Kepala. Kemudian kaki. Kurasakan darah mulai mengalir dari pelipis, kakiku sakit, dan kepalaku pusing.
Ada ruang rahasia di bawah lantai kamarku! Hanya itu yang berhasil kuingat disituasi seperti ini. Aku mulai mencopoti satu-satu kayu lantai kamar, menyelipkan tubuhku, menggendong Pelangi dan Mentari, kemudian menutup ruang sempit ini kembali. Mataku mulai menutup, aku tahu aku pingsan.
***
