“Tentara hitam datang! Bergegas!” suara sepatu-sepatu lars tentara bergema hingga ke pelosok desa. Aku terbangun, dengan cepat mengambil ransel yang sudah sejak dulu aku persiapkan—sejak negara kami berperang dan tentara musuh mulai menyerang warga sipil. Kudengar dua adik kembarku meraung di kamarnya, mereka ketakutan mencari sosok Ibu dalam gelap.“Derai, bawa adik-adikmu ke hutan!” Ibu berteriak dari dapur, ia pasti sedang mengambil bekal yang juga sudah sejak dulu disiapkan. Aku berlari menuju pintu, bergegas menggendong adik-adik bayiku.
Duaaarr. Suara tembakan menghentikan langkahku sejenak, dan aku tahu saat itu juga Ibuku telah tumbang. Aku harus menenangkan Pelangi dan Mentari agar tak terdengar tentara di bawah. Tapi apa daya, seluruh dinding di hadapanku hancur oleh ledakan, bongkahnya terlempar pada kami. Kepala. Kemudian kaki. Kurasakan darah mulai mengalir dari pelipis, kakiku sakit, dan kepalaku pusing.
Ada ruang rahasia di bawah lantai kamarku! Hanya itu yang berhasil kuingat disituasi seperti ini. Aku mulai mencopoti satu-satu kayu lantai kamar, menyelipkan tubuhku, menggendong Pelangi dan Mentari, kemudian menutup ruang sempit ini kembali. Mataku mulai menutup, aku tahu aku pingsan.
***
Dingin. Kedua tanganku seperti sedang membawa sebongkah es besar. Aku membuka mata dan langsung tahu apa yang akan terlihat. Sejak dinding sayap utara rumah hancur oleh ledakan, suara tangis Pelangi dan Mentari tak terdengar lagi. Kedua adikku terluka, mereka masih bayi, dan aku tahu mereka tak ‘kan bisa bertahan.
Sedih? Tidak, aku sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi sejak perang ini berkecamuk. Ayahku dipanggil sebagai tentara sipil, namun tak pernah ada kabar. Aku harus mengurusi Ibu yang hamil tua, membantu proses kelahiran si kembar, kemudian mengurusi segala pekerjaan rumah. Hatiku semakin membatu setiap hari agar aku bisa menerima kenyataan pahit hidupku.
Aku keluar dari persembunyian, ternyata pagi sudah menjelang. Kususuri tangga ke bawah, berjalan ke dapur, dan memeluk Ibu untuk yang terakhir kali. Aku tak mampu membawa jasad Ibu, jadi aku hanya membawa jasad Pelangi dan Mentari untuk kumakamkan di hutan. Ya, hutan; satu-satunya tujuan untuk berlindung.
Miris, tapi sekali lagi hatiku semakin keras melihat seluruh pemandangan ini. Jasad-jasad tergeletak di jalan begitu saja. Sesekali aku membenahi posisi mereka, sebagai penghormatan terakhir. Jalan setapak berdebu mulai terlihat, hutan semakin dekat.
“Pelangi, Mentari, ini akan menjadi rumah baru kalian. Bukankah kakak pernah bilang bahwa hutan adalah tempat yang asyik untuk bermain? Kalian bisa belajar merangkak sepuasnya di sini,” kukecup pipi tembam adik-adikku. Mereka telah mendapatkan kamarnya masing-masing di gerbang hutan ini.
Aku kembali melanjutkan perjalananku yang tanpa tujuan, kecuali bersembunyi. Langkahku kuperlambat, sepertinya aku mulai masuk ke area yang tak terjamah sebelumnya. Pohon-pohon semakin rapat, udara semakin lembap, dan aku juga semakin lelah.
Kupilih pohon besar yang ada di belakangku sebagai persinggahan pertama. Aku memanjatnya, dan memilih cabang paling besar teratas. Kuposisikan tubuhku agar lebih nyaman, kemudian mengikat diriku dengan tambang. Sepotong roti gandum kasar adalah menu terbaik dalam situasi saat ini.
***
Pernahkah kalian membayangkan bagaimana jika harus bertahan hidup di hutan? Aku akan memberi tahunya. Bertahan hidup di hutan tidaklah semudah yang selama ini kalian baca di dalam buku cerita petualangan. Saat ini, bekal air minumku semakin menipis, padahal aku baru menjajaki hutan selama dua hari. Dan inilah yang harus kulakukan; mencari sungai atau pohon berlumut sebagai sumber air minum.
Kemudian apa lagi? Selain air bersih, tentu saja makanan juga komponen terpenting. Dalam keadaan bertahan hidup adalah keharusan untuk tidak memilih makanan apa yang kausuka atau makanan apa yang tidak kausuka. Dan tentu saja, usahamu menentukan seberapa banyak dan seberapa bagus makanan yang bisa kaudapat.
Kembali ke masalah airku, aku mulai mengamalkan pelajaran singkat dari ayah sebelum ia dipanggil sebagai tentara sipil dulu. Berjalanlah ke tempat yang tanahnya semakin basah, atau ikuti saja jejak kemana hewan-hewan liar pergi. Kau akan menemukan air, begitulah yang menjadi fokusku saat ini.
“Hei! Siapa itu?!” baru saja terdengar teriakan bernada kasar dan mengancam. Aku terhenyak untuk sesaat. Bukankah aku sudah terlalu jauh di dalam hutan? Apakah para tentara itu juga bersusah payah menyisir hutan? Aku merasakan hormon-hormonku bekerja membuat perubahan. Denyut jantungku dipercepat, pupilku berdilatasi, keringat mulai keluar, paru-paruku berkontaksi lebih cepat. Aku merasakan ancaman kematian! Aku harus berlari!
Tanpa peduli ke mana aku pergi, yang kupikirkan hanya satu, berlari. Suara itu juga masih mengejarku. Ia terus memintaku berhenti, bukan, tapi memerintahku. Asal dia tahu saja, aku tak akan berhenti. Ibuku pergi, adik-adikku, juga ayah, itu semua karena mereka. Dan tiba-tiba…
“Kubilang berhenti!” ia menarik ransel di punggungku, hingga lariku terhenti seketika.
“Aku bukan musuh, berbaliklah,” sepertinya ia pemuda seumuranku. “Maafkan aku telah menakutimu. Perkenalkan, aku Gumilang,” aku hanya menatapnya masam. Bukan apa-apa, tapi karena nada memanggilnya yang tidak sopan disaat pertama itu membuatku jengkel, energi dari roti gandum yang seharusnya bisa bertahan hingga nanti sore terbuang untuk berlari sia-sia.
Ia menjulurkan tangannya, menyungging senyum ramah. Aku tahu dia baik, tapi tetap saja sikapnya menjengkelkan. “Namaku Derai. Jangan terbiasa menggunakan nada seperti itu,” kuacuhkan ajakannya untuk berjabat tangan. “Baiklah, maafkan aku, Derai. Bagaimana jika kita ke sungai sekarang? Aku membangun pondok di tepinya, kau bisa ikut tinggal bersama,” senyumnya sekali lagi dikembangkan, aku malas menanggapi dan hanya mengikuti di belakang.
***
Sudah tiga puluh menit kami berjalan, kukira ini sudah terlalu jauh dari tempat kami bertemu. Aku mulai kalut, pikiranku bergelimang kemungkinan buruk yang akan menimpaku.
"Ke mana kita sebenarnya? Sudah lebih dari tiga puluh menit kita berjalan. Apa kau menipuku?" terkaku kemudian.
"Kau sungguh tidak sabaran," Gumilang tersenyum simpul, membuat dekik pipinya terlihat sempurna. Aku menunjukan wajah cemberut, tak suka. Tapi ada rasa lain ketika melihat senyum dan dekik pipi itu. Aku harus membuang jauh bayang-bayang senyum itu. Dia adalah orang asing.
"Itu pondoknya," Gumilang menunjuk gubug beratap jerami yang terlihat sangat kecil dan sederhana.
"Sekecil itu?" kataku agak miris.
"Jangan remehkan gubug kecil dan sederhana itu. Gubug itu yang sudah melindungi kami dari tentara jahanam dan kejamnya peluru kematian," Gumilang mengepal kuat kedua tangannya, ia begitu serius, membuatku merinding seketika.
"Kau bilang tadi, kami? Apa masih ada orang lain yang tinggal disini?" tanyaku menyelidik.
"Ya. Ada banyak. Keluar semuanya! Dia kelompok baru kita!" katanya dengan nada keras memerintah, memecahkan gendang telingaku. Teriakan itu menggema ke seluruh penjuru, tiba-tiba berpuluh pasang mata keluar dari balik semak. Aku terlonjak, jumlahnya sangat banyak.
***
Ini malam pertamaku di pondok jerami, dingin menggigit tulang, nyamuk-nyamuk tak hentinya berdengung di telinga dan kadang mencuri paksa darahku.
"Pakailah selimut ini agar tidak terlalu dingin," Gumilang melemparkan sebuah selimut—yang tak layak disebut selimut—terlalu berdebu dan usang.
"Terima kasih," aku meraihnya cepat dan segera menutupi tubuhku yang hampir membeku—meski ini bukan musim dingin.
"Kau sudah mengenalnya?"
"Siapa?"
"Juno, anak blasteran bermata tajam itu," ingatanku kembali saat pertama kali disambut di sini. Seorang anak bermata biru itu menyambutku dengan senyum lebar.
"Ya, anak bule itu. Dia tampan dan gagah berani untuk seorang anak kecil," aku memang kagum pada anak bernama Juno itu.
"Ya, dia anak tak berdosa yang jadi korban kekejaman keparat itu," Gumilang terlihat seperti tadi siang, gusar dan berapi-api.
"Ibunya dijadikan betina, ayahnya dIbunuh dengan kejam di hadapan mereka," aku miris mendengarnya, meskipun nasibku tak jauh berbeda dengan Juno.
"Tidurlah, sudah larut. Kau adalah orang baru, beradaptasilah dengan baik," Gumilang tiba-tiba membelai kepalaku dengan lembut. Apa yang dia lakukan? Aku hanya menelan ludah pelan.
Kenapa aku menyentuhnya? Kurasa sosok itu tak lagi asing. Siapa Dia? Gumilang menyentuh tangannya yang tadi membelai kepala Derai.
***
Suara deru lesung membangunkanku dari kantuk kejora yang baru saja kutemui setelah subuh tadi. "Sudah bangun?" seorang perempuan paruh baya menyapaku dengan senyum. Aku jadi teringat Ibu. Aku membalasnya ramah.
"Bu..." Gumilang dengan gusar dan terburu-buru menghampiri aku dan perempuan paruh baya yang dipanggilnya Ibu.
"Kenapa, Nak?" Ibu paruh baya itu, yang kuyakini adalah ibu Gumilang menyahut dengan nada cemas.
"Hari ini juga, Ibu dan yang lainnya harus pindah dari sini." Gumilang nampak tergesa.
"Matikan semua tungku. Kaum wanita, ikutilah ibuku, kalian akan aman!" teriak Gumilang pada kelompoknya. Keadaan pagi yang semula lengang dan tenang sekarang berubah menjadi panik dan riuh.
"Ada apa?" Aku penasaran.
"Ada mata-mata di sini," jawab Gumilang tajam.
"Siapa?"
"Aku tidak begitu tahu. Cepatlah berkemas!" Gumilang pergi meninggalkanku yang masih bingung. Baru saja kemarin aku begitu lega karena sudah bergabung dengan orang-orang baik yang senasib denganku. Kulihat Gumilang tengah membicarakan hal serius dengan kelompok pria yang belum terlalu lama aku lihat mereka.
"Gumilang, kau seperti tak asing untukku," tiba-tiba kepalaku pusing, wajah gumilang terus menjadi familiar di ingatanku. Tubuhku ambruk seketika, ada seseorang yang menopangku, terasa hangat dan setelah itu aku tertidur dalam gelap. Deru nafas seseorang menyentuh kulit wajahku, dalam kesadaran yang minim aku mencoba membuka kelopak mata ini. Samar-samar kulihat dekik pipi itu melukis bulan sabit di bibirnya.
Namun rasa pusing itu tak dapat ku lawan, ia menang dan membuatku tak sadar seutuhnya. Dalam posisi tidak sadar aku bermimpi akan masa-masa tentram dahulu, dimana aku dan teman sebaya lainnya bergerilya mengelilingi kampung, berlari dengan hati riang. Dan saat itu juga aku terjatuh dan menabrak seorang anak lelaki, dia meraih tanganku dan membantuku untuk berdiri.
“Maaf, tadi aku sedikit buru-buru,” timpalnya. “Perkenalkan namaku Surya,” duar… ternyata pertemuanku dengan anak itu juga adalah awal dimana para tentara itu untuk pertama kali menginjakkan kakinya di tanah kelahiranku.
Miris, tapi sekali lagi hatiku semakin keras melihat seluruh pemandangan ini. Jasad-jasad tergeletak di jalan begitu saja. Sesekali aku membenahi posisi mereka, sebagai penghormatan terakhir. Jalan setapak berdebu mulai terlihat, hutan semakin dekat.
“Pelangi, Mentari, ini akan menjadi rumah baru kalian. Bukankah kakak pernah bilang bahwa hutan adalah tempat yang asyik untuk bermain? Kalian bisa belajar merangkak sepuasnya di sini,” kukecup pipi tembam adik-adikku. Mereka telah mendapatkan kamarnya masing-masing di gerbang hutan ini.
Aku kembali melanjutkan perjalananku yang tanpa tujuan, kecuali bersembunyi. Langkahku kuperlambat, sepertinya aku mulai masuk ke area yang tak terjamah sebelumnya. Pohon-pohon semakin rapat, udara semakin lembap, dan aku juga semakin lelah.
Kupilih pohon besar yang ada di belakangku sebagai persinggahan pertama. Aku memanjatnya, dan memilih cabang paling besar teratas. Kuposisikan tubuhku agar lebih nyaman, kemudian mengikat diriku dengan tambang. Sepotong roti gandum kasar adalah menu terbaik dalam situasi saat ini.
***
Pernahkah kalian membayangkan bagaimana jika harus bertahan hidup di hutan? Aku akan memberi tahunya. Bertahan hidup di hutan tidaklah semudah yang selama ini kalian baca di dalam buku cerita petualangan. Saat ini, bekal air minumku semakin menipis, padahal aku baru menjajaki hutan selama dua hari. Dan inilah yang harus kulakukan; mencari sungai atau pohon berlumut sebagai sumber air minum.
Kemudian apa lagi? Selain air bersih, tentu saja makanan juga komponen terpenting. Dalam keadaan bertahan hidup adalah keharusan untuk tidak memilih makanan apa yang kausuka atau makanan apa yang tidak kausuka. Dan tentu saja, usahamu menentukan seberapa banyak dan seberapa bagus makanan yang bisa kaudapat.
Kembali ke masalah airku, aku mulai mengamalkan pelajaran singkat dari ayah sebelum ia dipanggil sebagai tentara sipil dulu. Berjalanlah ke tempat yang tanahnya semakin basah, atau ikuti saja jejak kemana hewan-hewan liar pergi. Kau akan menemukan air, begitulah yang menjadi fokusku saat ini.
“Hei! Siapa itu?!” baru saja terdengar teriakan bernada kasar dan mengancam. Aku terhenyak untuk sesaat. Bukankah aku sudah terlalu jauh di dalam hutan? Apakah para tentara itu juga bersusah payah menyisir hutan? Aku merasakan hormon-hormonku bekerja membuat perubahan. Denyut jantungku dipercepat, pupilku berdilatasi, keringat mulai keluar, paru-paruku berkontaksi lebih cepat. Aku merasakan ancaman kematian! Aku harus berlari!
Tanpa peduli ke mana aku pergi, yang kupikirkan hanya satu, berlari. Suara itu juga masih mengejarku. Ia terus memintaku berhenti, bukan, tapi memerintahku. Asal dia tahu saja, aku tak akan berhenti. Ibuku pergi, adik-adikku, juga ayah, itu semua karena mereka. Dan tiba-tiba…
“Kubilang berhenti!” ia menarik ransel di punggungku, hingga lariku terhenti seketika.
“Aku bukan musuh, berbaliklah,” sepertinya ia pemuda seumuranku. “Maafkan aku telah menakutimu. Perkenalkan, aku Gumilang,” aku hanya menatapnya masam. Bukan apa-apa, tapi karena nada memanggilnya yang tidak sopan disaat pertama itu membuatku jengkel, energi dari roti gandum yang seharusnya bisa bertahan hingga nanti sore terbuang untuk berlari sia-sia.
Ia menjulurkan tangannya, menyungging senyum ramah. Aku tahu dia baik, tapi tetap saja sikapnya menjengkelkan. “Namaku Derai. Jangan terbiasa menggunakan nada seperti itu,” kuacuhkan ajakannya untuk berjabat tangan. “Baiklah, maafkan aku, Derai. Bagaimana jika kita ke sungai sekarang? Aku membangun pondok di tepinya, kau bisa ikut tinggal bersama,” senyumnya sekali lagi dikembangkan, aku malas menanggapi dan hanya mengikuti di belakang.
***
Sudah tiga puluh menit kami berjalan, kukira ini sudah terlalu jauh dari tempat kami bertemu. Aku mulai kalut, pikiranku bergelimang kemungkinan buruk yang akan menimpaku.
"Ke mana kita sebenarnya? Sudah lebih dari tiga puluh menit kita berjalan. Apa kau menipuku?" terkaku kemudian.
"Kau sungguh tidak sabaran," Gumilang tersenyum simpul, membuat dekik pipinya terlihat sempurna. Aku menunjukan wajah cemberut, tak suka. Tapi ada rasa lain ketika melihat senyum dan dekik pipi itu. Aku harus membuang jauh bayang-bayang senyum itu. Dia adalah orang asing.
"Itu pondoknya," Gumilang menunjuk gubug beratap jerami yang terlihat sangat kecil dan sederhana.
"Sekecil itu?" kataku agak miris.
"Jangan remehkan gubug kecil dan sederhana itu. Gubug itu yang sudah melindungi kami dari tentara jahanam dan kejamnya peluru kematian," Gumilang mengepal kuat kedua tangannya, ia begitu serius, membuatku merinding seketika.
"Kau bilang tadi, kami? Apa masih ada orang lain yang tinggal disini?" tanyaku menyelidik.
"Ya. Ada banyak. Keluar semuanya! Dia kelompok baru kita!" katanya dengan nada keras memerintah, memecahkan gendang telingaku. Teriakan itu menggema ke seluruh penjuru, tiba-tiba berpuluh pasang mata keluar dari balik semak. Aku terlonjak, jumlahnya sangat banyak.
***
Ini malam pertamaku di pondok jerami, dingin menggigit tulang, nyamuk-nyamuk tak hentinya berdengung di telinga dan kadang mencuri paksa darahku.
"Pakailah selimut ini agar tidak terlalu dingin," Gumilang melemparkan sebuah selimut—yang tak layak disebut selimut—terlalu berdebu dan usang.
"Terima kasih," aku meraihnya cepat dan segera menutupi tubuhku yang hampir membeku—meski ini bukan musim dingin.
"Kau sudah mengenalnya?"
"Siapa?"
"Juno, anak blasteran bermata tajam itu," ingatanku kembali saat pertama kali disambut di sini. Seorang anak bermata biru itu menyambutku dengan senyum lebar.
"Ya, anak bule itu. Dia tampan dan gagah berani untuk seorang anak kecil," aku memang kagum pada anak bernama Juno itu.
"Ya, dia anak tak berdosa yang jadi korban kekejaman keparat itu," Gumilang terlihat seperti tadi siang, gusar dan berapi-api.
"Ibunya dijadikan betina, ayahnya dIbunuh dengan kejam di hadapan mereka," aku miris mendengarnya, meskipun nasibku tak jauh berbeda dengan Juno.
"Tidurlah, sudah larut. Kau adalah orang baru, beradaptasilah dengan baik," Gumilang tiba-tiba membelai kepalaku dengan lembut. Apa yang dia lakukan? Aku hanya menelan ludah pelan.
Kenapa aku menyentuhnya? Kurasa sosok itu tak lagi asing. Siapa Dia? Gumilang menyentuh tangannya yang tadi membelai kepala Derai.
***
Suara deru lesung membangunkanku dari kantuk kejora yang baru saja kutemui setelah subuh tadi. "Sudah bangun?" seorang perempuan paruh baya menyapaku dengan senyum. Aku jadi teringat Ibu. Aku membalasnya ramah.
"Bu..." Gumilang dengan gusar dan terburu-buru menghampiri aku dan perempuan paruh baya yang dipanggilnya Ibu.
"Kenapa, Nak?" Ibu paruh baya itu, yang kuyakini adalah ibu Gumilang menyahut dengan nada cemas.
"Hari ini juga, Ibu dan yang lainnya harus pindah dari sini." Gumilang nampak tergesa.
"Matikan semua tungku. Kaum wanita, ikutilah ibuku, kalian akan aman!" teriak Gumilang pada kelompoknya. Keadaan pagi yang semula lengang dan tenang sekarang berubah menjadi panik dan riuh.
"Ada apa?" Aku penasaran.
"Ada mata-mata di sini," jawab Gumilang tajam.
"Siapa?"
"Aku tidak begitu tahu. Cepatlah berkemas!" Gumilang pergi meninggalkanku yang masih bingung. Baru saja kemarin aku begitu lega karena sudah bergabung dengan orang-orang baik yang senasib denganku. Kulihat Gumilang tengah membicarakan hal serius dengan kelompok pria yang belum terlalu lama aku lihat mereka.
"Gumilang, kau seperti tak asing untukku," tiba-tiba kepalaku pusing, wajah gumilang terus menjadi familiar di ingatanku. Tubuhku ambruk seketika, ada seseorang yang menopangku, terasa hangat dan setelah itu aku tertidur dalam gelap. Deru nafas seseorang menyentuh kulit wajahku, dalam kesadaran yang minim aku mencoba membuka kelopak mata ini. Samar-samar kulihat dekik pipi itu melukis bulan sabit di bibirnya.
Namun rasa pusing itu tak dapat ku lawan, ia menang dan membuatku tak sadar seutuhnya. Dalam posisi tidak sadar aku bermimpi akan masa-masa tentram dahulu, dimana aku dan teman sebaya lainnya bergerilya mengelilingi kampung, berlari dengan hati riang. Dan saat itu juga aku terjatuh dan menabrak seorang anak lelaki, dia meraih tanganku dan membantuku untuk berdiri.
“Maaf, tadi aku sedikit buru-buru,” timpalnya. “Perkenalkan namaku Surya,” duar… ternyata pertemuanku dengan anak itu juga adalah awal dimana para tentara itu untuk pertama kali menginjakkan kakinya di tanah kelahiranku.
Namun sampai disitu aku tersadar dan spontan diriku terkejut karena ada Gumilang disampingku. Ia tertidur sambil mendekap tanganku yang dingin.
“Hei bangun,” sahutku. Gumilangpun bangun sambil mengulas-ngulas wajahnya.
Kembali kutanyakan padanya, “Sudah berapa lama aku pingsan?” ia bilang aku sudah pingsan hampir sehari. Aku tak enak hati dan meminta maaf karena telah merepotkan.
“Tak apa yang penting sekarang kamu sudah sadar, ayo kita siap-siap menyusul rombongan yang sudah berangkat duluan, mudah-mudahan kita masih bisa mengejarnya,”
Sudah sejauh itukah aku membuat Gumilang susah, bagaimana mungkin ia begitu peduli pada orang sepertiku. Ah tiba-tiba saja pikiranku mulai berlayar tak tentu arah. Tentu saja ia peduli, mungkin ia merasa senasib sepenanggungan, bukankah bukan hanya aku di sini, masih ada puluhan orang lain yang berada di bawah komandonya.
***
Langit tiba-tiba kelam, nampaknya ‘kan turun hujan. “Teman-teman, percepat langkah kalian, semoga saja kita sudah menyeberangi sungai sebelum hujan turun dan aliran sungai menjadi deras,” ketegasan dan gayanya memimpin terkadang membuatku kagum, tapi adakalanya juga aku benci dengan tindakannya. Kembali kuingat kali pertama kami berjumpa.
Suara petir juga tak mau kalah menghiasi langit yang sudah gelap sejak tadi, sebagian anggota kelompok sudah berhasil menyeberangi sungai. Dan ternyata benar, hujan pun turun dan derasnya sontak membuat aliran sungai bertambah deras. Kini tiba giliranku untuk menyeberang, air sungai masih saja deras, Gumilang berinisiatif memberikanku seutas tali dan menyuruhku untuk mengikatkannya di pinggang. Ditengah penyeberangaku ternyata tali itu putus akibat bergesekan dengan batu.
Derasnya aliran sungai tak dapat kujinakkan. Aku hanyut terbawa arus, tentu saja aku berteriak minta tolong pada Gumilang dan rombongan. Dengan spontan Gumilang berenang menyusuri derasnya air dan menyusulku, tapi ada satu hal yang tak dapat kami duga. Ternyata di depan sana sudah menunggu jalan buntu, ya, air terjun di depan kami.
Aku tak henti berdoa pada Tuhan, apakah ini akhir perjalananku bersama Gumilang. Di tengah keputusasaan, sebuah bongkahan kayu, datang mendekati kami. Langsung saja aku dan Gumilang meraih bongkahan kayu itu, dan menjadikannya sampan sehingga dapat membawa kami ke pinggiran sungai.
Sesampainya di tepi sungai aku peluk Gumilang, dan kukatakan padanya, “Terimakasih Gumilang, ini kali keduamya kau melindungiku, entah dengan apa ‘kan kubalas kebaikanmu,” Manusia memiliki serIbu rencana, namun tetaplah Tuhan yang memiliki kendali atas segala sesuatu di dunia, yang kutahu hanyalah Tuhan selalu mempunyai skenario indah bagi hamba-hambaNYA, dan salah satu skenario indah itu adalah pertemuanku dengan Gumilang.
Derai kamu tidak apa-apa, aku kira kita tak akan bertemu lagi, sungguh tadi itu sangat menegangkan. Aku tak tahu apa jadinya jika kita jatuh dari air terjun itu, mungkin kita sudah berada di surge. Senyumnya semringah membuatku tenang seolah berada di samping seseorang yang memang sudah kukenal sejak lama.
Tak lama setelah itu rombongan lain pun menghampiri dan menyusul ke tempat kami menepi. “Gumilang, Derai, kalian tidak apa-apa?” tanya Juno. Juno pun membantu kami berdiri, dan sebagian yang lain membaluti badan kami dengan sehelai kain untuk membuat badan kami terasa hangat.
***
Sudah sepuluh tahun sejak aku dan Gumilang bertahan hidup di hutan, menghindar dari perang, mencoba memberi diri kami masing-masing harapan. Nyatanya aku masih hidup sekarang. Kalian tahu, aku menikah dengan Gumilang. Saat ini kami memberi 2 orang adik untuk Juno. Ya, kami mengangkat Juno sebagai anak.
Ibu—mertuaku—meninggal diakhir petualangan itu. Hari itu kami sampai di pinggir hutan, mengintai sebuah desa yang tampaknya masih aman. Semuanya bergembira ketika melihat secarik kertas pengumuman yang tertempel di gerobak sampah. Perang berakhir, kehidupan baru dimulai. Disaat itulah suara batuk Ibu menghentikan tawa gembira semua orang, ia tersungkur, tubuh kurusnya berguncang, kalimat terakhirnya memintaku dan Gumilang untuk membaca surat sederhananya.
Anakku, menikahlah, tumbuhkanlah cinta di hati kalian. Ada sesuatu, yang Ibu rasa kalian akan sulit untuk memahaminya. Kalian pernah menikah dulu, sebelum ingatan orang-orang menghilang karena kegilaan perang. Menikahlah.
Dengan begitu, aku dan Gumilang paham. Semua rasa seperti telah mengenal, rasa aneh yang muncul untuk saling menjaga, kehangatan yang menyelimuti saat melihat senyuman—kami—ternyata karena memang dulu aku dan dia pernah bersama. Entah kapan, aku lupa.
-TAMAT-
-TAMAT-
0 Comment to "Aku, Gumilang di Hutan"
Posting Komentar