Rabu, 16 Oktober 2013

Indonesiaku yang malang



(Surganya abdi dunia nerakanya abdi Tuhan)
Oleh: Usnul FiQri
41102038
Beberapa pekan ini begitu nyaring di telinga kita, berbagai media memberitakan beberapa hal terkait problematika yang sedang di alami bangsa ini. Mulai dari bencana longsor, banjir kasus korupsi para pejabat, kecelakaan bus yang diakibatkan rem blong yang merenggut jiwa-jiwa generasi muda, presiden yang katanya akan menaikkan gaji para pejabat daerah, moral para guru pendidik yang mulai rusak, yang yang seharusnya menjadi panutan kearah yang positif malah merusak masa depan anak didiknya., biaya kesehatan yang katanya gratis dan di tanggung pemerintah namun malah mendatangkan musibah bagi rakyat miskin, perampokan dimana-mana, penipuan dengan modus investasi bodong, keharmonisan yang sudah mulai terkikis oleh perkembangan masa, serta para artis juga tidak ketinggalan memberikan sumbangsihnya untuk menutup rangkaian berita media masa. Sungguh derita berhiaskan musibah benar-benar melanda bangsa ini. Sungguh indonesiaku yang malang, surganya abdi dunia nerakanya abdi Tuhan dan masyarakat.
Pada beberapa hal negara ini dapat dikatakan maju, namun itu hanyalah bersifat segelintir,  sedangkan dilini yang lain kita sangat terbelakang. Realita pemerintahan kita bersifat kinerja mulut, bukan relevansi dari sebuah kinerja yang selama ini mereka koarkan disetiap kampanye sebelum mereka terpilih menjadi wakil rakyat. Semuanya tak nyata bagi kita hanya memberikan mimpi buruk dikemudian hari. Seandainya mereka menuliskan apa yang sudah mereka lontarkan kepada kita tentang segudang aktifitas yang akan mereka curahkan, demi kemajuan bangsa ini tentunya dia akan tahu musuh-musuhnya (red. Amanah).
Godaan memang akan selalu dialami saat seseorang sudah memangku sebuah amanah, mengemban harapan rakyatnya. Bukan bingung dalam kenikmatan duniannya. Seharusnya ada pengurutan mana yang harus ia prioritaskan. Yang harus ditekankan adalah hindari berdebatan terkait fikroh (red. Pemikiran yang berbeda) dan adat yang nantinya hanya menghasilkan debat kusir yang tak berujung dan bersifat rancu pada sebagian orang. Perbanyak memberi dan lakukan kontribusi, itulah yang kita tunggu. Posisikan diri sebagai abdi negara bukan abdi dunia, kenali diri siapa kita, karena hidup tiadakan lama.
Jangan tergoda oleh uang yang sekarang, namun tergodalah untuk uang yang akan datang. Jangan tergoda oleh kenikmatan sekarang yang akan menghancurkan masa depanmu, namun tergodalah oleh kenikmatan yang akan datang. Seandainya para pejabat kita berfikir seperti apa yang penulis katakan, alangkah bahagianya kita diperhatikan oleh pemerintah yang telah kita pilih sesuai dengan aspirasi yang kita inginkan.
Apabila ditanyakan satu hal, mana yang anda pilih orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang sabar. Saya yakin anda akan menjawab orang kaya yang bersyukur. Namun  jawabanya adalah tentunya orang kaya yang sabar. Orang kaya dinegeri ini dapat dikatakan banyak, hanya saja semuanya bersifat individual asset. Orang kaya dinegeri ini banyak yang tidak sabar. Tidak sabar dalam artian selalu focus dengan pekerjaannya masing-masing atau juga dikatakan sok sibuk. Jangankan ingat terhadap lingkungannya, bisa jadi keluarganya sendiri tak mereka ingat. Lupa akan sekitar, tak ingat akan selingkar. Pada lini lain yang justru dimotivasi oleh nafsu keduniawian, hasrat ingin menambah kekayaan dan berbagai sebab lainnya.
Dapat saya katakana bahwa hidup ini penuh dengan pujian dan hinaan. Ya begitulah, maka saya katakan bersyukurlah ketika orang lain menghina anda karena ditengah kehinaan lahir sebuah kekuatan, namun jangan anda bayar orang lain untuk menghina anda. Dan berlindunglah ketika orang lain memuji anda karena ditengah pujian akan lahir sebuah kelemahan, namun jagan anda bayar orang lain agar tidak mau memuji anda.  Jadilah pribadi anda maka anda akan bekerja dengan segenap kemampuan yang anda punya. Jangan dengarkan orang lain karena hakikat kehidupan adalah disaat anda sudah mengenal diri anda sendiri dan berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang kita punya( Nasihat salah satu dosenku).
Yang miris di bangsa ini juga adalah kurangnya kepedulian akan sesama, kurangnya rasa cinta dan kasih diantara sesama manusia. Bagaimana mengembalikan cinta kasih bangsa ini kembali? Itu menjadi PR besar bagi kita semua, bukan hanya pihak terkait ataupun pemerintah setempat. Mana Indonesia yang kita kita dulu, kita selalu bangga akan prestasi orang-orang terdahulu, hingga kita lupa dan terlarut dalam cerita lama. Kita selau mengadang-gadangkan bhineka tunggal ika, walaupun kita berbeda suku, bangsa, agama ataupun ras, namun kita tetap satu. Satu nusa, satu bahasa, satu pemikiran dan satu hati.  Hidup ini bukan hanya sekedar menjawab pertanyaan, tapi bagaimana kita bisa mengerti akan sebuah pertanyaan.
Artinya kita perlu merenungi kembali kemana nilai-nilai religious bangsa kita, dimana semangat persatuan yang selalu kita busungkan dan apa yang sudah kita berikan pada bangsa ini. Bukan hanya menuntut akan sebuah hal yang realitanya hanya memberikan bayang semu dan janji palsu.
Negara kita saat ini adalah layaknya orang yang terjangkit penyakit “Post Power Syndrome”, dimana gejala-gejala yang terjadi adalah si penderitanya hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya, baik itu karier, kecantikan, ketampanannya, kecerdasan dan kepintarannya ataupun hal lainnya. Seolah tak bisa memandang realita yang ada saat ini dan lebih cenderung sibuk dalam dunianya masing-masing, menciptakan ilusi dunia pengganti untuk dunia yang dijalaninya saat ini dimana ia merasa nyaman sendiri tanpa ada yang mengusik. Miris, memang miris namun itulah kita.
Saudaraku hidup itu adalah sebuah pembelajaran, bukan saling mengurui. Apabila ada salah maka semua adalah nilai manusiawi yang kita miliki. Maka dari itu alangkah baiknya kita saling berbagi akan sebuah kelebihan, karena suatu kelebiha akan sangat bermanfaat saat ia dibagikan. Karena pendidikan yang berkualitas bukan hanya milik orang yang mempunyai kemampuan dalam hal finansial saja, namun hendaknya dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Yang perlu ditekankan lagi adalah sejauh mana kelebihan yang dimiliki bangsa ini bermanfaat bagi rakyatnya agar menjadi pribadi yang kuat lagi kokoh. Karena sebuah kekuatan  melahirkan kesatuan, kesatuan melahirkan keyakinan. Solusinya adalah bergerak dan bergerak. Karena pergerakan ya, pergerakan adalah kunci keberhasilan bangsa ini. Selama masih ada para pemuda dan selama semangat untuk membangun bangsa ini tak pernah padam dan selama mimpi-mimpi itu juga tak pernah redup. Maka pergerakan itu akan muncul, yakin dan percayalah. Smoga…



Share this

0 Comment to "Indonesiaku yang malang "

Posting Komentar