Kamis, 31 Oktober 2013

Kenangan di Akhir Kepengurusan (LPJ Leadership Camp)


Kelompok Yahya Bin Umar:
Hafizh Ash Shidiq
Endang Nugraha Saputra
Miftahul Huda
Usnul Fiqri
Siti Rahmah Yulianah
Keuis Kartinah
Diana Putri
Anis Indah Kurnia
Pendahuluan
Alhamdulillahirabbil’alamin, Segala puji beserta syukur kita ucapkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat dan karuniaNya lah, kita masih dapat merasakan nikmatnya sehat. Manisnya ilmu dan eratnya silaturrahmi. Tak lupa juga shalawat beriring salam kami haturkan kepada Sang Qudwah, Sang Murabbi sepanjang zaman ialah Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarganya para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman nanti. Allah berfirman dalam surat An-nisa Ayat 9 yang artinya :
“ Dan hendaklah takut ( kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap ( kesejahteraan ) nya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”.
Kami sadari kaderisasi menjadi satu hal yang sangat penting bagi keberlangsungan organisasi. Dan bukan hanya sekedar kaderisasi begitu saja, ada metode atau cara ideal untuk melahirkan generasi yang ideal pula. Untuk melahirkan generasi ideal, yaitu generasinya para pemimpin diperlukan sebuah pelatihan yang mengasah kemampuan mental, fisik, wawasan, komunikasi dan pastinya kepemimpinan. Melalui rangkaian acara inilah yang insyaAllah mampu menciptakan generasi perubah “agent of change”.
Program LC ( Leadership Camp) adalah salah satu tahapan dari alur kaderisasi yang harus dilalui oleh para calon pemimpin yang akan memegang amanah di ORMAWA ( Organisasi Mahasiswa) untuk tahun berikutnya. Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan jiwa kepemimpinan dari angkatan 2011 yang selanjutnya akan menjalankan kepengurusan ORMAWA berikutnya. Pada kesempatan kali ini, kami akan sedikit berbagi rekam jejak kelompok kami dalam mengikuti program LC tersebut. Semoga bermanfaat.



ISI
Leadership Camp dilaksanakan setelah kegiatan SL yaitu School of Leadership. Adapun peserta dari LC adalah angkatan 2011 yang aktif di ormawa SEBI, apakah itu teman-teman yang aktif di BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa), SSP ( Sebi Solidarity for Palestine ), IsEF ( Islamic Economic Forum). Kita semua digabung disini.
Dari alur organisasi SEBI yang di ikuti, mulai dari PROPEKA, Acces-I dan TO. LC lah yang sangat banyak menyimpan kisah-kisah yang tak kan terlupakan di sepanjang hidup ini (lebay dikit) Mari kita telusuri jejak perjalanan teman-teman di LC.. Selamat membaca..
Cari tau tentang kita yuk..!!
Nama kelompok kami adalah Yahya bin Umar, yang di ketuai oleh Hafizh Ash Shidiq yang aktif di ormawa IsEF. Hafizh adalah sosok yang sangat bijaksana, tapi jangan salah, dia juga suka ngelawak lho. hehehe. meskipun dia ngak sadar kalau tingkahnya yang biasa membuat hal yang luar biasa mengocok perut. Dan ada Endang Nugraha Putra, Miftahul Huda, Husnul Fiqri , Anis Indah Kurnia, Diana Putri, Keuis Kartinah dan Siti Rahma Yulianah. 8 orang ini mempunyai karakter yang berbeda, dan dengan perbedaan karakter inilah membuat yahya bin Umar semakin berwarna.
Prepare – Packing – Go Action !
Pada H-3 LC dilaksanakan, Hafizh mengundang semua teman-teman untuk syuro, guna mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Semua di catat supaya tidak ada yang ketinggalan. Disini ada pembagian tugas yang mana para akhwat mempersipkan bahan-bahan makanan yang dibutuhkan untuk 3 hari, dan ikhwan mempersiapkan tenda, dan perlengkapan masak.
Kami siapkan segala keperluan kelompok kami, sejauh ini arahan dari ketua sangat bagus. Kami pun menjadi semangat dan siap hadapi LC, Be the best and go action !
Helikopter ? Pasar Kambing ??
Pada tanggal 3 mei 2013, kami siap untuk melakukan perjalanan menuju lokasi yang telah ditentukan oleh kakak panitia. Untuk mengetahui rute jalan yang akan kita tempuh supaya bisa sampai ke lokasi, kita harus memecahkan kata sandi yang di beri oleh panitia.
Kelompok yahya bin Umar memulai perjalanan dengan menaiki angkot yang menuju ke parung. Setelah sampai di parung kita kembali melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot yang menuju bogor. Nah.. disini kita turun disamping jalan yang ada helikopternya. Oh ternyata ini adalah kawasan perumahan Angkatan Udara. Tapi kenapa mesti helikopter??
Ya mesti.. karena petunjuk yang diberi, kita mesti berhenti di tempat yang ada helikopternya. Tau nggak sihh... ada kejadian lucu di perjalanan kita menuju helikopter. Gimana ngak lucu coba..
“Pak! Helikopter..!” Hafizh dengan wajah tanpa berdosanya melontarkan kata-kata itu. Yang terfikirkan bagi saya adalah seseorang yang sedang buru-buru menuju bandara yang dia hampir ketinggalan pesawat. Kejadiannya hampir sama dengan apa yang kita jalani.
Perjalananpun kami lanjutkan menuju lokasi berikutnya. Dimana? Pasar kambing.. disini kami menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Andai saja ada angkot. Pasti nggak bisa naik juga.. kasiian! Ada panitia. Banyak mata dimana-mana. Hahaha..
Nggak kok kita ngak curang kak panitia :D
 Setelah berjalan beberapa menit kamipun naik angkot yang menuju IPB. Diangkot kami mewawancarai seorang ibu-ibu yang baru pulang dari pasar. Disini kami mensosialisasikan ekonomi islam, yang di moderatori oleh akh kami endang nugraha ey...  
 Tak terasa perjalanan kami sudah beranjak jauh. Si ibu pun berhenti ditempat tujuannya, dan kami mengakhiri percakapan kami dengan beliau.
Tak lama kemudian sampailah kami di IPB. Dan laporan pertama dilaksanakan. Di selang waktu teman-teman ikhwan melaksanakan shalat jum’at berjamaah, kami para akhwat bertugas menjaga keamanan perlengkapan yang dibawa. Setelah istirahat dan shalat zhuhur dilaksanakan, kamipun siap melanjutkan perjalanan selanjutnya. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami di beri kode yang mesti dipecahkan menuju rute selanjutnya. Dalam waktu yang singkat yahya bin Umar bisa memecahkan kode yang ada diselembar kertas. Kata-katanya adalah Darul Falah. Dengan tanpa berfikir panjang, kamipun langsung menuju pinggiran jalan, dengan tujuan mencari lokasi tersebut. Sopir angkotlah yang menjadi targetan kami.
“ pak!! darulfalah dimana pak?”, si bapak menjawab, “ naik aja neng biar saya anterin”. Dengan perasaan bahagia kamipun naik angkot sibapak. Eh.. tanpa kita sadari ternyata dikertas yang bertulisan kode perjalanan kami kali ini. Tertulis kata-kata Longmarch. Kitapun galau. Apakah akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot atau turun, dan jalan kaki. Hal yang membuat kita ragu yaitu tulisan Darul Falah + 1km, kita menafsirkan bahwasanya. Perjalanan yang akan ditempuh dengan berjalan kaki adalah 1km setelah darulfalah. Yaudah kita lanjut perjalanan dengan angkot. Ternyata itu adalah keputusan yang salah. Teman-teman kelompok yang lain berjalankan kaki dari IPB menuju darulfalah.. cape banget pasti. Kita aja jalan kaki dari gerbang darul falah keatas udah cape.. maaf ya teman-teman kami tidak berniat untuk berlaku curang dalam perjalanan ini..)
Setelah semua kelompok berkumpul di pos 2, perjalananpun dilanjutkan. Kita sekarang berjalan menuju jalan kecil yang jauh dari keramaian. Tau apa yang kami rasakan. Laparr..


Tak ada yang paling indah dari melihat gerbang Darul Falah
Jalan dakwah memang benar-benar panjang. Nikmat lelahnya begitu terasa, sampai kami mengerti mengapa Allah begitu mengapresiasi ke-Istiqamahan. Perjalanan kami menuju tempat LC terasa membuahkan hasil, alhamdulillah akhirnya sampai juga. Tak ada yang paling indah dari melihat gerbang Darul Falah. Benar-benar kemenangan itu telah kami raih rasanya. Begitu sampai disana kami bertemu dengan beberapa kakak. Sejenak kami bisa duduk, di rerumputan yang bertasbih. Sedikit air kami ambil, setelah itu berlalulah kami menuju tempat perkemahan.
Selain sambutan hangat dari para panitia, kini tiba sambutan yang dingin dari arus sungai yang deras. Luar biasa indah, lagi-lagi kami bertafakur. Arus air yang mengikis bebatuan adalah karya seni bermakna kesabaran. Air mencoba mengajarkan kami akan kesungguhan ikhtiarnya. Dengan kesugguhan dan kesabaran ia mampu mengikis batu yang sifatnya padat dan keras. Dengan pemandangan indah tersebut kami bersikeras menyebranginya. Saling bekerjasama, saling percaya. Basah, hal yang dari tadi kami hindari tapi yaa sudahlah.. Hari pertama sudah seperti ini, tak terbayang hari esok. Semangat..!
Bumi Kemah Darul Falah
Naik ke atas dengan keadaan licin, tak lama sampailah di tempat kemah. Tidak begitu luas. Tak beberapa lama, kami mendapat instruksi untuk membuat makanan (akhwat) dan mendirikan tenda (ikhwan). Benar-benar pengalaman baru bagi beberapa dari kami. Semua saling bersinergi untuk menyiapkan tempat juga pengisi energi (makanan). Mendirikan tenda, membuat api, menyiapkan bahan makanan, masak, lalu makan. Tidak pernah kami melakukan kebersamaan seperti ini. Alam menyediakan segalanya, kami memanfaatkan beberapa tanpa bermaksud untuk merusaknya. Kami tau jika kita berlaku baik terhadap alam, maka alam pun akan sebaliknya.
Hari mulai gelap, semakin sulit untuk kami melakukan aktivitas. Penerangan pun mulai dinyalakan. Masih dalam aktivitas kami, waktu menunjukkan telah masuk waktu shalat Magrib. Berwudhulah kami, kembali ke aliran sungai itu. Segar rasanya. Dengan hamparan bekas spanduk yang sederhana, kami pun shalat berjamaah. Dengan segala kerendahan kami mohon rangkaian acara LC ini berjalan dengan lancar. Begitu juga kebersamaan kami dalam shalat Isya.
Acara pertama yang kami jalani ialah pembukaan LC dilanjutkan dengan laporan kunjungan divisi-divisi ormawa, yang beberapa waktu lalu kami laksanakan. Satu per satu kami secara bergantian mempresentasikan hasil tugas kami. Dengan berbagai macam informasi yang salah satu kebutuhan organisasi ialah mempunyai relasi. Hubungan antar organisasi yang ternyata baik, memberikan banyak manfaat bagi masing-masing. Keduanya bisa saling berbagi, saling belajar satu sama lain, dan juga bisa bersinergi bersama dalam beberapa hal. Kami akui mungkin beberapa ormawa kami masih lemah dalam hubungan keluar ini. Acara ini pun ditutup menandakan berakhirnya rangkaian acara hari itu.
Games Time
            Hari kedua menyapa. Tidur semalam masih perlu sedikit adaptasi ternyata. Kami memulai hari di sepertiga malam, begitu tenang. Gemericik air sedikit demi sedikit membasuh anggota wudhu, menyejukkan. Kami pun shalat qiyamul lail dan dilanjutkan dengan Shubuh. Setelah itu, kami pun memulai kembali untuk menyiapkan sarapan. Ini lebih mudah dari yang kemarin, karena keadaan lebih terang. Kami pun memulai memasak bukan hanya untuk sarapan, tapi juga untuk makan siang. Disela memasak ketua pun dikumpulkan. Ada perubahan anggota kelompok. Kebetulan kelompok kami jadi bertambah satu orang sehingga genap menjadi 8 orang. Seusai kami sarapan, mengemas makan siang kami pun bersiap untuk melakukan agenda selanjutnya.
            Kembali kami melewati sungai untuk menuju sebuah lapangan untuk riyadhoh. Sedikit peregangan dan games berhikmah, boleh lah. Keceriaan itu pun hadir. Setelah agenda riyadhoh, kami pun berkumpul per kelompok. Menunggu giliran pemberangkatan games pos to pos. Disela-sela kami menunggu, kami sempatkan untuk sedikit berdiskusi. Waktu seolah memberikan kami kesempatan untuk duduk bersama, yang tak lain dan tak bukan diskusi untuk ormawa yang lebih baik. Beberapa masukan, kritik, saran membuat kami sama-sama terbuka akan keadaan ormawa dan segala permasalahannya. Semangat itu pun ada, kami akan belajar dari kesalahan yang lalu. Itulah pembelajar yang baik. Next better.
            Yahya bin Uma(r), itulah kelompok kami. Kini giliran kami yang berangkat. Kami akui, kelompok kami memang terlihat begitu semangat. Satu sama lain mempunyai karakter yang berbeda-beda, menjadi warna tersendiri. Dan taukah mengapa kami terus teriakan Yahya bin Uma(r) bukan Yahya Bin Umar? Silahkan tanyakan pada ketua kelompok kita, Hafizh Ash Shidiq. Ketua yang luar biasa memotivasi, bahkan dengan humorisnya yang tidak bisa mengatakan huruf “R” dengan jelas. Selalu menjadi bahan tertawa, dan menceriakan suasana. Menyenangkan walau beberapa kali tersesat. Pos yang pertama kami dihadapkan dengan games sudoku (permainan angka). Menulis angka dikotak yang telah tersedia dengan syarat angka yang berurut tidak boleh berdampingan. Dengan semangat kami pun coba mencari. Berisik sekali rasanya hhe. Kami bersikeras menemukan jawbannya, kombinasi angka-angka tersebut sudah kami coba agar sama jumlahnya tapi tak juga sama. Di tantangan pertama kami gagal. Sampai kakak panitia memberikan jawaban yang benar, ternyata tidak harus menyamakan jumlah di setiap baris maupun kolom. Seharusnya kan permainan sudoku seperti itu, tapi yasudahlah. Kami hanya bisa tertawa.
            Kembali kami melanjutkan perjalanan menuju pos-pos selanjutnya. Mungkin kami akan menceritakan lebih singkat. Di beberapa pos semuanya adalah permainan berhikmah. Dimulai dari bersama berjalan di sisi bambu yang semakin membesar, berjalan zigzag dengan membawa air di batok kelapa, melempar telur dan lainnya. Selama perjalanan kami isi dengan keceriaan. Tersesat? Jangan ditanya lagi hhe.. Tapi memang penyikapan yang bisa menilai semua. Tidak tanggung-tanggung kami semua tiba-tiba terkumpul 4 kelompok yang sama-sama tersesat.
Tadinya kami ingin bersama-sama menempuh perjalanan ke pos berikutnya. Kelompok kami memilih untuk istirahat sejenak, dekat mata air dan makan. Bukan santai atau apapun, persediaan air menipis, lebih baik kami makan dekat mata air jadi kami bisa menghemat, ini strategi. Kembali melanjutkan perjalanan, dan sampailah pada 2 pos terakhir. Lagi-lagi di sungai. Agenda penutup pos to pos yang pas. Diakhiri dengan basah-basahan.

Api unggun malam LC
Agenda malam, seperti kata panitia kita adakan api unggun. Disaksikanlah yelyel kita masing-masing. Dengan ceria kami jalani agenda ini, yelyel yang aneh, bagus sampai kita gak mengerti harus komentar apa. Semua ada di LC. Begitu juga dengan yelyel kami, pake lagu konvensional hhe.. tapi seru, kami menyebutkan diri dalam yelyel “jagoan sebi”. Ada bang Hafidz, Rahma, Diana, Anis, Keuis, Miftah, Endang, Fiqri, kami semua jagoan SEBI. Itu sepenggal dari yelyel kami yang sangat bagus sekali (narsis). Tapi gak juara juga he..
            Agenda mengejutkan terjadi. Kami, angkatan 2011 tiba-tiba dipilih beberapa untuk seolah-olah menjadi para petinggi ormawa, BPH-PSDM. Beberapa dari kelompok kami pun terpanggil. Kita disuruh membuat suatu hal yang masih sangat awam dimata kami. Selain itu juga kami semua dikelompokkan menurut ormawa masing-masing. Kami disuruh mendiskusikan terkait kritik saran untuk BPH-PSDM tiap ormawa. Kami pun mengutarakan satu per satu dengan niatan ini semua untuk ormawa selanjutnya yang lebih baik. Evaluasi memang diperlukan, namun ini dijadikan sebagai pembelajaran agar yang buruk jangan terulang, pesan ka Baihaqi. Nantinya keorganisasian ormawa berada di tangan kami, 2011. Insya Allah kami bisa, harus bisa.
Kapur yang kokoh
Hari esok, matahari mulai menampakkan cahayanya, kami bergegas untuk masak terakhir kalinya di tempat kemah. Bahan-bahan makanan yang ternyata masih lebih dari cukup untuk kami masak. Kelompok kami memang paling produktif dalam menyiapkan makanan. Toh, sekali masak aja langsung menggunakan 3 api. Kelompok lain pun terheran melihat kami karena masih sempat-sempatnya membuat kacang ijo hhe.
Saatnya bergegas meninggalkan tempat kemah untuk pulang. Namun, sedikit bocoran dari panitia yang sudah menjadi rahasia umum, kita akan pergi untuk naik Gunung Kapur. Semangat kami menggebu penasaran. Setelah semua selesai berkemas, kami pun pergi meninggalkan tempat kemah dengan jalur yang sedikit berbeda ketika berangkat. Yah karena memang untuk mencapai kaki Gunung Kapur kita menempuhnya dengan jalan kaki bersama. Membuat ratusan pasang mata melihat kami. Barisan kami yang panjang rapi seperti semut membuat anak-anak desa disana tersenyum dan berkata “Loba nyah..” artinya “banyak yah..”. Tak jarang ada yang menyapa kami dengan ramah. Wah kampung yang sepi ini mendadak menjadi ramai karena rombongan SEBI.
Setelah menempuh sekian lama perjalanan ke kaki Gunung, kini tibalah disana. Istirahat sebentar, meluruskan kaki. Persediaan air minum yang menipis. Benar-benar harus hemat. Instruksi panitia pun menyuruh kita untuk melaksanakan bakti sosial ke masyarakat dekat kaki Gunung Kapur.
Bahan-bahan makanan yang masih kita punya, kami sisihkan mana yang masih pantas untuk diberi dan mana yang tidak. Kami memilih sebuah rumah anyaman sederhana persis tidak jauh dari tempat kami beristirahat. Disana tinggal lima anggota keluarga. Seorang ibu dan nenek bermatapencaharian di Gunung tersebut, mengambil rumput dan beberapa tanaman. Sedikit candaan khas kami, mencairkan suasana. Kami memperkenalkan diri, dengan tak lupa derah asal kebanggaan kami. Senang sekali bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada keluarga tersebut. Setelah itu pun kami sempatkan sejenak ke sebuah masjid kecil untuk melaksanakan Dhuha.
Perjalanan pun berlanjut, dari kaki Gunung naik ke tempat yang lebih tingi lagi. Perjalanan yang lumayan melelahkan, kami pun beristirahat kembali di sebuah tempat yang agak datar. Disana tertulis tarif 2000 per orang. Mungkin kali ini, disewa khusus untuk acara LC. Disini dengan dipandu Ka Bintang  kita bermain sebuah games perang. Awalnya kami tidak setuju karena kami cinta damai (padahal karena lelah hhe). Tapi dengan semangat kami tetap mengikuti instruksi dari kaka panitia. Akhwat main di tempat itu juga, namun yang ikhwan bermain dengan sedikit ke bawah. Kita dibagi dua kubu, yang akan saling mempertahankan slayer yang kita pegang. Ketika slayer tersebut direbut lawan, maka tim itu akan kalah. Slayer tersebut terserah dari keputusan kelompok akan disembunyikan di seseorang atau di suatu tempat. Perang diantara akhwat berlangsung ricuh, semua yang punya indikasi menyimpan slayer digeledah. Bisa dilihat ternyata permainan di akhwat lebih kasar dibanding ikhwan hhe. Kalau yang ikhwan bermain dengan strategi, semua mencari slayer tanpa adanya ricuh apalagi penggeledahan. Akhirnya disisi akhwat sudah menyerah duluan, berdalih menyimpan tenaga untuk naik Gunung. Apalagi saat itu sudah masuk waktu Dzuhur juga.
Melanjutkan perjalanan, kali ini benar-benar medan yang cukup sulit. Kami tidak diperkenankan untuk membawa tas. Naiklah kami dengan semangat, medannya memang lebih sulit tapi menantang. Pijakan demi pijakan harus diperhatikan. Tak jarang ada batu kecil hingga sedang menggelinding ke bawah, seperti di film 5 cm. Bagi yang merasa ini adalah pengalaman pertama, sangat seru pastinya. Lelah tapi seru. Ada yang karena tidak kuat, berhenti di pertengahan. Ini memang seperti hidup. Hanya butuh bergerak agar kita tidak menjadi orang yang stagnan. Terus menatap kedepan dan optimis. Daan alhamdulillah kami sampai di atas, walau belum puncaknya, kami senang sekali.
Diatas sana, kami melaksanakan penutupan prosesi kegiatan Leadership Camp ini. Mulai dari peserta terbaik ikhwan akhwat, kelompok terbaik, dan tugas kunjungan terbaik. Walaupun tidak menjadi kelompok terbaik, tidak apalah. Kami mendapatkan lebih dari sekedar itu, dan kami sama-sama mengakui bahwa kami bangga bisa menjadi satu kelompok. Semoga solid hinga nanti ke SEBI. Sebelum turun kami bernyanyi bersama, lagu Rabithah untuk saudari kita yang milad pada hari itu. Bersimbah air mata. Momen yang tak terlupakan. Begitu juga dengan sesi foto bersama. Semua peserta LC dan panitia, inilah mujahid mujahidah agen perubah, aamiin..

Penutup
Rangkaian acara LC kemarin, tidak ada materi sedikitpun. Tapi pembelajaran yang kami dapat lebih dari sekedar materi. Kami menjadi mengenal teman-teman lebih dekat, ternyata memang benar alam dengan segala kejujurannya akan menampakkan siapa sebenarnya kita. Semua ini akan menjadi bekal kita nanti dalam bersinergi di ormawa. Belum lagi dengan beberapa tafakurnya dan nilai-nilai kebersamaan didalamnya. Seperti yelyel kami “Semangat di LC, Kembali ke SEBI”, insyaAllah kami akan tetap memberikan yang terbaik untuk ormawa SEBI yang lebih baik, lebih bermanfaat, lebih produktif.
Terakhir, kami ingin megucapkan terima kasih kepada kakak-kakak panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara Ladership Camp ini. Ini semua akan menjadi bagian dari perjalanan dakwah kami yang tak terlupakan, sebuah pelatihan dan pembelajaran hebat bagi kami yang akan terus berguna bagi perjalanan kami selanjutnya. Dan juga terima kasih kepada teman-teman “GELAS” yang ikut meramaikan acara ini, semoga semangat ini bisa melahirkan sebuah perubahan bai arah gerak ormawa yang lebih baik. Allahu Akbar !!


Share this

0 Comment to "Kenangan di Akhir Kepengurusan (LPJ Leadership Camp)"

Posting Komentar